Smiley

9:09:00 AM
0

Sudah lihat video diatas? Apa komentarmu? Hahaha ... memang begitulah seorang tua yang bernama Ayah  berlaku. Sering terlihat memikirkan banyak hal dan tidak mudah mengeluarkan kata-kata. Ya, meskipun sekali saja keluar dari pikirannya, kita harus mencernanya kata-kata itu berhari lamanya. Kadang karena terllau dalam, namun tidak jarang juga kita tidak mengerti. Kalau sudah begini, kita akan lari kepada seorang Ibu. "Bapak ngomong apa sih, Mak?!"

Aku masih ingat ketka dahulu, ketika mudik libur sekolah ke desa. Karena sudah terbiasa dengan jawaban singkat khas Bapak, jadi merasa aneh dengan pertanyaan beliau yang sangat beragam dan kontinyu. "Ada apa? Pertanda baik atau buruk." Aku justru kikuk sendiri, dan hal ini hanya dapat kupahami saat-saat sekarang ini. Bahwa, ada satu hal yang selalu dinanti oleh orang tua kita ketika sudah sepuh untuk membicarakan apa saja dengan anak-anak mereka.

Sikap Bapak yang penuh misteri ini tidak jarang menjadikan seisi rumah begitu dengan Ibu. Sehingga Bapak semakin kesepian dan cemburu kepada anaknya. Istri yang dia cintai, lebih banyak waktunya untuk kita. Namun dengan segala kekuatannya hal itu sengaja ia tepikan dalam hatinya. Mungkin hal semacam ini yang menjadi alasan beliau seolah terlalu semangat untuk melihat kita dewasa. Banyak tugas dan kewajiban yang dibebankan oleh Bapak kepada anaknya. Dari sekedar menjadi pengambil perkakas saat dia menukangi rumah, atau menjadi kuli pembuat luluh (adonan semen siap pakai).

Ketika banyak anak kecil lain yang sangat asyik bermain bola sehabis sekolah, namun Aku sudah harus menyegerakan makan siang dan menukar sendok dengan sekop. Kadang karena tidak tahan untuk melewatkan film anak sore hari, Aku menyelinap ke rumah tetangga melalui dapur. Tentu saja dengan segala resiko atmosfir rumah yang sangat berat saat pulang, atau lebih buruk dari itu, cambukan. Aku sering merasa, Bapak memaksaku untuk melakukan hal-hal yang tidak mudah, seperti mengalah kepada saudara kecil meski kita secara de facto benar. Bantahan hanya akan berujung kepada bentakan atau telinga merah kena jewer.

Semakin tidak faham dengan semua yang dilakukannya dalam sepi, ketika beliau memutuskan menyerah. Demi kerinduannya kepada Emak, dan kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan dari kami anak-anaknya yang mulai benci rumah. Aku demikian marahnya, seolah keras beliau mengatakan di depan telingaku, "kamu tidak akan bisa menghidupi kami." Tidak tahukah beliau dengan perjuanganku selama libur semester untuk belajar jualan kacang hijau di depan sekolahan, untuk yakin dapat melakukan sesuatu dalam menyelamatkan sekolah Si Adik.

Aku tahu si Adik tidak mungkin untuk ikut ke Surabaya agar dapat bersekolah. Aku sedang mengusahakan agar dia tetap bersekolah di Kediri, dan mengalah untuk mendermakan waktu sisa-sisa kuliah mencari penutup kebutuhan itu. Ya, toh itu sudah pernah aku buktikan dengan memberikan selembar uang besar kepada Adik agar dapat terus mengaji di sekolah diniyah malam, sekolah agama. Aku yakin mampu, dan akan Aku buktikan Aku telah dewasa. Namun dengan sangat jelas, Bapak justru memberikan sinyal bendera putih terhadap hidupnya. Memilih untuk mendapat kesempatan bertemu dengan Emak dalam mimpi-mimpi nyata di dalam kuburnya yang kami dekatkan.

Sekarang juga Aku baru dapat menemukan kelu itu, bahwa seorang laki-laki dapat saja begitu kokoh. Dia bisa menjadi orang yang mampu hidup sendiri dengan sangat baik karena pekerjaan yang baik. Aku juga telah banyak membuktikan itu, setidaknya 6 tahun lebih dari cukup bukan?! Aku merasa sangat mampu untuk mimicking perannya terhadap Adik. Aku bisa menjadi orang yang keras dan sunyi agar terlihat wibawanya. Aku telah berhasil dalam kuliah, mendapat pekerjaan yang baik, merantau dan menyisihkan banyak dari gaji ke kantung Adik bahkan saudara-sudara yang dekat dengan Adik.

Tetapi itu semua bukanlah alasan yang tepat bagiku untuk melupakan bahwa Emak telah pergi. Kami bertiga tidak akan pernah dapat menemukan gantinya, maka pilihan hanya menyusul atau bertemu dengan perempuan yang baru. Menyusul? tentu itu tidak bisa dengan sembarangan dilakukan. Atau lebih tepatnya belum siap sampai ke tahap itu. Hahaha ... Begitulah kenyataannya. Jika diputar kembali saat pertama kali Aku mengganti Cinta Emak dengan yang lain, mendebarkan juga. Meski itu hanya sebentar, karena setelah itu yang ada hanya sakinah, tenang.

Sayang, Aku yang masih terlalu muda dalam usia tidak mampu menemukan solusi yang permanent untuk hati yang telah penuh itu. Aku mencoba membiarkannya mengalir saja, tetapi ada bagian dari hati yang menyanggahnya. Apakah mungkin ada, dalam ruang hati yang satu, ada kemaksiatan kepada Allah dan kehambaan kepadaNya? Ah, Aku hanya seorang mahasiswa tingkat awal yang tidak punya tulang punggung. Bagaimana mungkin melangkah ke penghulu. Siapa yang akan mendukungku? Sehingga Aku memutuskan untuk selalu menghindari hubungan laki-perempuan semacam itu.

Ayah Muda
Aku faham sekarang, meski tidak akan menemukan cinta yang sama dari seorang Ibu, Aku lelaki. Seperti apa yang telah ditunjukkan oleh Bapak. Dulu Aku memang salah memahami kepergian Bapak, dan sejak itu Aku marah dengan ketidakmampuanku. Yang ternyata telah merubah pundakku menjadi sangat mirip dengan Bapak setidaknya 10 tahun terakhir ini. Bahkan, ketika Aku bersilaturahim kepada saudara-saudara beliau, mereka langsung mengenali. Mereka yang pernah bertemu Bapak selama hidupnya, akan segera aware, "Pak Muh ini."

Begitulah jalan hidup seorang lelaki yang menjadi Ayah. Berjalan sepi demi berbagi seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Seorang Bapak memang sempurna sebagai pemimpin, namun Allah telah mengeluarkan kelemahan dari tulang rusuknya. Meski belahan jiwa itu lemah, tetapi dialah penguat bagi seorang tua bernama Bapak. Butuh waktu yang panjang bagimu untuk mengajariku, tentang siapa perempuan. Jalanmu memang sukar ditebak olehku, Bapak. Tetapi doa-doamu untuk beroleh seorang pewaris di masa tuamu telah berkali-kali di dengar oleh Allah. Sehingga Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia. Allahu a'lam. Alhamdulillah. Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

0 Komentar:

Posting Komentar