Smiley

0
Apa yang kita pikirkan ketika membaca judul provokatif seperti pada caption foto di bawah? Apakah dengan serta merta kita percaya? Bukankah itu bisa mungkin adalah pendapat pribadi Si Penulis, yang memang mudah berimajinasi. Atau ada rencana lain dari Si Penulis terhadap pembaca.

Senja Kala

Beberapa hari ini Saya sering menyaksikan video dari youtube tentang opini dan pengaruhnya dalam banyak hal. Terutama hal negatif yang mengganggu pikiran muslim Saya. Karena memang awal mulanya Saya menyaksikan beberapa debat keagamaan tentang Islam. Salah satu yang membuat Saya tergerak menulis halaman ini adalah tentang betapa negatif hasil opini media yang telah mendiskreditkan hubungan Nabi SAW dan Sayyidah Aisha RA. Dari semua hal yang berawal dari opini seseorang dalam menilai potongan sejarah, mudah sekali membelokkan, bahkan, bagi orang atheis yang cenderung melihat sesuatu sebagai hal yang nisbi dan objektif. Sehingga banyak kalimat sinis yang keterlaluan dan memandang hanya kejahatan seksual yang terjadi dalam hubungan Beliau, Muhammad SAW.

Kecil Tampan
Si Tampan Kecil Ini Baru 8 Tahun, tapi Sudah Buat Orang Ingin Menikah dengannya!

Jika kita memang kuat terhadap faham relitivisme, mengapa kita tidak tersenyum seperti saat membaca judul tulisan dalam gambar di atas. "Ah, masa, sih?" misalnya. "Mungkin hanya untuk menarik perhatian, coba kita teliti terlebih dahulu," yang bijak juga boleh.

Namun, rupanya faham relativisme ini telah begitu dominan sekarang. Ya, namanya juga relatif, tentu membingungkan. Tanpa sadar dalam kebingungan tersebut kita telah dikuasai oleh budaya mayoritas. Relatif, sih. Pasti benar jika orang banyak juga percaya. Dan semakin banyak orang tidak berakal yang ikut mengiyakan suatu berita, opini yang jelas - jelas tidak obyektif pun segera berubah menjadi fakta. Apalagi jika media besar, yang katanya profesional, menampilkannnya di halaman utama. Maka relitivisme akan menang, meskipun kebenaran kosong.

Begitulah cengkeraman relativisme dalam dewasa ini, yang sejalan dengan sikap malas dan terburu - buru. Kita sudah jadi korban, sadar ataupun tidak sadar. Dan itulah mengapa faham relativisme ini begitu dibenamkan sebagai kebenaran dalam pemikiran modern. Menghapus semua norma - norma, sehingga wajar jika semakin banyak kebo nusu gudel. Nasehat orang tua dianggap sebagai kuno, ketinggalan jaman. Apalagi tentang Agama, semua dianggap benar. Seolah timbul agama baru, Relativisme! Dan begitulah rupanya kekuatan dunia saat ini mengendalikan kekuasaannya. Tidak heran jika di zaman sekarang sulit menemukan kesopanan.

Kembali kepada fakta pribadi Rasul SAW. Tidak ada yang salah dengan budaya menikahkan anak usia dini, tapi lihatlah kejadian selanjutnya. Aisha RA tidak benar - benar 'menikah' dengan Nabi SAW sampai Aisha RA telah siap tinggal seatap dengan Nabi SAW. Dan lebih jauh, tilik sejarah Aisha RA setelah Nabi SAW wafat, tidak pernah beliau mengabarkan kelemahan atau keburukan Nabi SAW sebagai seorang suami. Bukan sebagai Nabi yang memang maksum, tetapi sebagai suami biasa seperti suami yang lain. Apakah sempat terbersit dalam benak Aisha RA untuk menikah lagi? Silahkan cari dalam kurang lebih 2200 hadits yang di riwayatkan oleh Aisha RA, apakah ada sedikit kelemahan Rasul SAW sebagai suami atau sebagai pemimpin atau sebagai lelaki. Bersikap jujur memang membutuhkan hati yang lapang. Dan tentu saja, bersih dari faham relativisme yang telah menguasai kita seumur - umur sampai sekarang.

11 Rajab 1436 H

0 Komentar:

Posting Komentar