Smiley

0
Menarik dalam pemikiran orang atheis dalam mengkritisi sesuatu. Namun jangan disamakan kita harus andil dalam persetujuan dan pemikiran. Dalam pandangan materialsime, tidak ada kebenaran absolut dalam dunia. Bahkan apa yang sudah benar pun hanyalah 99,99999% benar. Seperti misalnya, Slamet harus protes kepada Emaknya karena tidak mempunyai sertifikat Ibu kandung. Karena itu, tidak mungkin mengatakan Quran sebagai kebenaran mutlak. Harus dikaji ulang terus menerus, dengan pandangan natural atau alamiah. Sebagai hal yang seharusnya menjadi acuan, bukan aturan Quran.

Lalu apa masalahnya dengan alamiah ini? Ilustrasinya adalah bahwa di dalam kingdom binatang telah dibuktikan secara ilmiah bahwa kecenderungan untuk homoseksual adalah natural. Dengan penekanan bahwa kita manusia adalah sejenis binatang primata. Jadi, jika kemudian Agama menghukum seseorang karena berpaham homoseksual menjadi tidak masuk dalam akal pikiran ilmiah. Hanya karena mereka berpaham seperti itu, tidak ada hak bagi Tuhan untuk menghukum mereka, jika Tuhan ada. Dan kalaupun kita menganggap Tuhan itu ada, bukankah homoseksualitas itu Tuhan sendiri yang menciptakan mereka. Semakin tidak masuk akal bagi atheis tersebut, apa yang disebut Tuhan dan Agama, sebagai kesimpulan ilmiahnya.

Apakah ilmu psikologi manusia itu ilmiah? Mereka hanya percaya apa saja yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Sementara belum ada jawaban yang meyakinkan tentang anggota animal kingdom dan kepemilikan jiwa. Bisa dikatakan jiwa dalam hal ini sebagai consciousness yang masih menjadi polemik di dunia keilmiahan. Jika menganalogikan penyakit psikis dan fisik sebagai dua hal yang ilmiah. Terhadap perbedaan homoseksual dengan kelainan seorang bayi yang mempunyai Jantung di luar tubuhnya. Dua hal tersebut sama-sama kelainan. Hanya saja yang satu dipandang berbeda tergantung keilimiahan, dan yang satu lagi orang paling bodoh yang diminta oleh Prof. Yohannes Surya pun akan tahu bahwa jantung harusnya berada di dalam dada. Meskipun belum ada sentuhan pengajaran dari beliau.

Berthing Naturalis

Science sendiri menurut Karl Marx, adalah mengusahakan manusia untuk keluar dari kebinatangan. Namun sungguh ironis ketika mengatakan homoseksualitas itu sah karena binatang pun biasa mekakukannya. Dengan alasan, genre sex manusia itu bebas dari kecemburuan. Boleh saja memilih samesex maupun heterosex, atau tanpa orientasi gender. Bahkan institusi pernikahan adalah beban, hanya butuh kontrak kehidupan bersama. Sesuai hukum evolusi kecemburuan itu sendiri akan hilang sejalan dengan kemajuan dunia.

Begitulah manusia yang akan dikembangkan dalam dunia ketiga kita. Bimbang terhadap pemikiran-pemikiran yang mengatasnamakan kebebasan akal. Sayangnya pemikiran terhadap kekuatan akal ini selalu terantuk dengan teknologi. Apa yang tidak dapat dijelaskan pada masa seratus tahun yang lalu, mudah diketahui dengan teknologi jaman sekarang. Jadi, hampir semua ilmuwan adalah orang-orang yang sedang menunggu. Menunggu bukti-bukti yang akan semakin menguatkan ketuahanan. Padahal bukti yang didapat dari tadabbur saat ini secara teknologi berlimpah bagi para ilmuwan.

Dan jika ada seseorang di luar sana ada yang hobi dengan kekerasan, manusia hanya tinggal memfasilitasi. Lihat saja rating WWF yang pernah merajai TV swasta Indonesia itu. Ah, mungkin semua yang bisa menarik sebagai tayangan di media adalah natural. Seperti homoseksualitas yang sudah ada film-nya, yang menghasilkan dollar sejumlah $178.1 million. Fantastis! Hanya dengan jualan barang organik. Mungkin itulah mengapa perempuan merasa tidak menjadi obyek dalam tanyangan penuh aurat. Karena barang organik, mudah dijual dan mahal. Daripada jika hanya jadi konsumsi pribadi, cuma dinilai sekedar gaji suami. Yang juga ala kadarnya.

20 Syawal 1436 H

0 Komentar:

Posting Komentar