Smiley

0
Setiap huruf yang kita baca dalam Quran adalah kebaikan, dan setiap ayat darinya adalah ditujukan kepada manusia yang membacanya. Tidak jarang kita mendengar, seorang mualaf yang tertunduk hatinya setelah membaca Quran meskipun dalam bahasa terjemahnya. Aku ingat, ketika pertama kali lantunan surah Ar Rahman membuatku meneteskan air mata. Tanpa ada sebab yang begitu dalam di pikiranku. Aku tidak sadar dengan kesombonganku, mungkin itu yang ingin dikatakan hatiku dengan air mata. Air mata yang tidak bisa kudapatkan lagi kecuali hanya sekali itu. Sekeras apapun Aku berusaha khusyuk dalam shalat. 

Pengalaman spiritual seperti ini kadang langka bagi sebagian kita. Sementara untuk yang shaleh, mereka biasa menangis dalam setiap shalat malamnya. Kita, mungkin shalat malam karena hajat yang membuncah. Dan baru dapat menangis ketika bermunajat, dalam doa setelah shalat. Wajar jika Aku rindukan lantunan surah Ar Rahman, di Masjid Al Falah waktu itu. Yang selalu mengoyak hati dengan mengenangnya. Begitu hangat nikmat yang terasa dalam hati setelah menangis, seolah ada beban yang terangkat dari dada, bergunung-gunung.

Dengan senang hati langkahku selalu menuju Al Falah. Dalam bulan unik yang memang hanya sekali dalam tiap tahun. Bulan yang membuat kita kembali dari hiruk - pikuk dunia. Tahun ketiga setelah pengalaman ar Rahman itu, masih ada makna tersembunyi. Bahwa ternyata, meskipun hanya Ramadhan yang membuatku singgah di masjid itu, tetaplah karunia yang besar. Karena tidak semua orang diundang untuk menikmati jamuan Ramadhan. Banyak juga yang dipanggil dengan kesulitan, justru semakin menjauh dengan Ramadhan. Jadi jika dulu berlabuh ke masjid itu karena sedang jatuh, itu tetap sebuah anugerah. Tetap merupakan panggilan yang menyenangkan, keberuntungan. Masing - masing kita dipanggil dengan hikmah yang tidak seratus persen sama memang.

Aku merasa selama ini selalu dipanggil kembali ke Surabaya, terutama ketika Ramadhan, yang kemudian membawa kenangan tentang Al Falah itu. Bulan Rajab sudah mendekat, dan semakin dekat dengan dua puluh tujuh rajab. Keresahan hatiku mengingat Al Falah, membuatku malu. Seandainya, Aku bisa ke sana dengan lebih tenang. Bersama hati yang telah bertemu jawaban, tentang panggilan itu. Alangkah menyenangkan, mengetahui panggilan apakah yang terus mengejar sejauh apapun Aku berjalan. Tidak juga dekat maupun jauh. Selalu saja ada yang menarik di Al Falah, mungkinkah ada kemenangan di sana? [Semoga]

Hari ini ada colekan kecil dari atribut yang sama, Al Falah. Tarikan kecil untuk faham, bahwa tidak mudah memahami panggilan itu. Tetapi Al Falah tetap memanggil, Hayya 'ala al falah. Aku ingat, saat puluhan tahun yang lalu. Saat - saat menyenangkan belajar syair - syair berisi ilmu. Madrasah lailiyah, sempalan PP Al Falah Ploso untuk warga kampung yang jauh lebih murah. Semangat menghafal bait - bait syair untuk setoran harian. Aku juga ingat ketika itu, ada sesuatu yang aneh dalam dadaku. Yang tiba - tiba terasa berat walaupun hanya sekedar duduk mendengarkan pelajaran. Walaupun sekedar berbaring menghadap ke atas, terasa nyeri yang sangat saat bersujud. Ingat, wajah penuh do'a dari adikku. Aku ingat, saat kupasrahkan diriku, karena Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua kenangan itu juga dekat dengan Al Falah, meski tinggal kenangan karena tergerus kebodohan.

Ah, Ramadhan adalah Al Falah. Kemenangan itu sendiri, yang akan nyata jika menjadi husnul khatimah. Saat 'iedul fitri tiba. Dan kita hanya diwajibkan untuk terus mempertahankan iman. Seperti para tentara, meskipun tangan tidak pernah menjatuhkan sebuah bom.

Panggilan - panggilan itu memang mendekatkan pada kemenangan. Namun, keriuhan dunia telah membuat bingung. Karena kurangnya ilmu, karena gelapnya pengaruh ghazwul fikri. Jawaban itu, adalah bahwa Aku tidak mampu menjawab semua keraguan tentang islam yang dipertanyakan dunia. Padahal Aku berislam, bagaimana iman itu akan bertahan? Jika kita tidak bergerak untuk ilmu. Aku memang belum pandai merangkai hujjah dalam kepala seperti seorang Zakeer Naik dan Ahmad Deedat, seorang profesor. Tetapi memilih untuk menulis adalah sebuah usaha untuk belajar. Meskipun tidak akan mudah mempertahankan niat di jalan ini. Dan seribu alasan lagi yang bisa kapan saja datang membuat ciut hati. Jika itu setimpal dengan apa yang ada dalam berita gembira. Biarlah getir, asalkan Aku bersama buku.

19 Syawal 1436 H

0 Komentar:

Posting Komentar