Nabi ﷺ secara pribadi telah menerangkan halalnya harta rampasan perang. Dan sabda beliau ﷺ pun telah sering digunakan sebagai amunisi untuk menyerang Islam secara keseluruhan. Saya mengutip satu saja hadist yang ditera dalam kitab shahihain, seperti juga telah diambil oleh Ibn Katsir dalam memberi tafsir ayat 149-153 surah 'Ali Imran berikut. Dari Jabir ibn 'Abdullah dari Rasul ﷺ.
أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلى النَّاسِ عَامَّة
Dalam kitab asbabu al nuzul Al Wahidi memberi kredit dari sejarah, tentang keraguan yang muncul terhadap Nabi ﷺ dari orang-orang di sekitar beliau. Seperti apa yang telah disampaikan oleh Ibn 'Abbas ketika peristiwa hilangnya beludru merah hasil rampasan perang Badr. Namun dalam penjelasannya Al Wahidi tidak memberikan penegasan bahwa mereka menuduh Nabi ﷺ secara frontal. Saya sendiri di sini hanya menangkap sebagai syak. Seperti kata Sa'id ibn Jubayr, "... bahkan (beliau ﷺ) dapat terbunuh." Ketika Khusyaif menyatakan keyakinannya, bahwa tidak mungkin Nabi ﷺ melakukan tindakan embezzlement.
Allah ﷻ kemudian berkehendak menghilangkan keraguan dari kaum mukminin, pada masa itu hingga sekarang, tersurat dalam ayat ke 161 surah 'Ali Imran. Bahkan dengan jaminan bahwa Allah ﷻ akan menggiring orang yang ghulul dengan ancaman di hari kebangkitan. Yaitu dengan menggantungkan harta yang disalah-gunakan itu di leher mereka, sejak hari kebangkitan. Dan Allah ﷻ tidak menerima syafa'at Nabi ﷺ terhadap orang-orang korup tersebut. Semoga, ayah berikut menjadi penghilang beban berat keraguan yang mungkin akan terus dibisikkan dalam dada kita.
وَمَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَـمَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ
0 Komentar:
Posting Komentar