Smiley

10:44:00 AM
0
Melihat Tempat Terakhir
harianaceh.co.id


Wati bergerak membetulkan peci hitam Budi yang miring karena ketiduran mendengarkan ceramah Kang Shomad. "Sudah waktunya pulang, lekas. Kakak harus mengganti selimut Emak," ujar Wati sembari menopang Budi yang masih terkantuk - kantuk. "Hoahmm ... iya, Kak. Tapi Budi ndak pakai sendal saja, ya. Sendalnya putus waktu main kejar - kejaran."

Beriringan anak - anak kecil berhati mulia, lepas mengaji senja hari di sepanjang pematang sawah. Kerlip obor penerangan mereka terlihat seperti kunang karena api yang tidak besar, oleh gerimis kecil yang mendinginkan kalbu. Satu persatu nyala api itu berpisah, mengikuti Sang Thalib ke rumah masing - masing. Namun Wati dan Budi terheran, di rumah mereka banyak nyala obor terpasang di tiang - tiang bambu. Juga ramai orang yang sibuk bekerja.

"Ada apa, Kang?" tanya Wati kepada seseorang yang tengah memotong kayu bakar di samping rumah. "Oh, ndak papa. Kang Parjan, ini Si Wati dan Budi," teriakan kecil itu membawa Wati dan Budi pada Pak Lik. Tidak ada kata yang keluar dari Si Paman, hanya pelukan tanpa penjelasan. Dua jagoan kecil itu merasakan getaran tertahan, dari Pak Lik yang tetap diam. "Pak Lik, apa Emak sudah pergi," hening hati Kang Parjan mendengar suara Budi. Hanya anggukan kecil, dan sebulir air mata menjadi jawaban bagi Wati dan Budi.

***

Suara adzan telah berkumandang, pertanda tanah basah itu akan menjadi penutup akhir. Budi menggayut di lengan Kakaknya yang terus bergetar. "Kak, Budi ikut bantu uruk, ya," pinta Budi tanpa menunggu balasan. Tangan kecil itu mengangsur genggaman tanah tanpa berkedip melihat papan penutup jenazah. Seolah menghitung waktu perpisahan. Kang Parjan bergetar tangannya memegang cangkul, mengurai gundukan tanah basah yang menggumpal. Air mata terus menetes, meski tanpa suara.

Pengantar mulai mengangkat kedua tangan mereka, menghadiahkan doa dan salam perpisahan. Menandai akhir perjalanan umur Perempuan Tua yang teguh itu. Seteguh dua putra kecilnya yang tidak banyak bertanya. Apakah mereka ikhlas atau kesepian. Kadang hati bersih mereka lebih hebat dari pundak tua yang sering memikul beban.

Bunga sudah terhampar, dan derap langkah kaki mulai beranjak pergi. Yang hidup tetap pulang, seberapa pun cinta di dalam dadanya. "Kakak pulang dulu saja, Budi mau disini," bisiknya pada telinga Wati, melukis keheranan di wajahnya yang basah oleh air mata. Namun ditinggalnya adiknya itu pergi tanpa kata, meningkahi perih dalam cintanya.

"Budi masih di sini, Mak. Jangan takut, dua Malaikat itu pasti belum datang," bisik Budi di antara suara derap langkah kaki yang menjauh. Anak kecil itu yang terakhir, dan seperti tak hendak beranjak. Entah apa makna bisikan itu, mengapa shalihah itu harus takut? Mengapa Malaikat itu belum datang?

"Budi memang belum bisa baca Qur'an, Mak. Tetapi Budi ingat kata Kang Shomad kemarin, waktu belajar ceramah. Budi akan tunggu Emak, sampai capek." Sulit mencerna bisik lembut dari bibir kecil itu. Tapi angin tetap sabar memberitakan kepada yang lain, seperti gerimis yang membuat lupa semua orang pada bocah kecil itu.

"Emak pasti marah, ya. Karena Budi tidak bisa baca do'a. Tapi Budi tidak takut, akan Budi tunggu Emak." Setingkah tetumbuhan yang bergerak ditiup angin, seolah sedih melihat Budi kecil yang kebasahan dan tergetar dingin. Namun ia tetap tidak beranjak. Ada apa Budi? Pulanglah, Nak. Seru pohon Pinang tua yang sejak tadi berdo'a sambil terus memperhatikan Budi. "Kang Shomad bilang, Malaikat Kubur tidak akan datang. Selama masih ada Budi yang menunggui Emak di sini."

Wahai cinta apa ini, tergetar kami makhluk tak bernyawa. Tingkah hati bersih ini darimana datang ilhamnya. Bocah yang sering membuat kesal Kakaknya itu tetap tertunduk tak beranjak. Menjadi yang terakhir, polah apa ini Manusia? Inikah makhluk yang membuat iri para malaikat itu. 

0 Komentar:

Posting Komentar