Smiley

0
Ada bagian dunia ini dimana pertemuan banyak manusia menjadi muara ekonomi. Didesain maupun tidak, seperti sebuah terminal misalnya, atau sentra - sentra, begitu biasa disebut jika memang didesain. Peletakan eksploitasi sumber pangan dalam struktur kehidupan yang kompleks ini sudah bergeser pada daerah - daerah penghasil uang.  Inilah sang penuntun kehidupan, dalam simbolnya. Apakah hanya simbol? Apakah hanya sebagai alat penukar? Sungguh akan sangat sederhana jika kita semua adalah semut, yang memakan apa yang bisa ditampung di dalam perut saja. Selebihnya kerja kita hanyalah kepentingan koloni yang lebih mulia.

Terminal Semut

Kita memang sudah menjadi semut - semut kecil yang tunduk dalam gelombang hipnosa, koq. Tidak pernah ada kata berhenti memutar uang. Dari yang berdompet tebal sampai pada kelompok tanpa dompet pun, selalu mengeluhkan hal yang sama. Kita selalu merasakan peristiwa ganjil yang disebut penguapan uang dan kondensasi utang. Uang menghilang utang menambah. Tetapi begitulah memang seharusnya semut - semut artifisial harus menjalani hidupnya. Kekuasaan dunia yang mengendalikan semut - semut itu telah mendesain semuanya sedemikian rupa sehingga uang selalu berputar. Sebagai kimia penggerak kehidupan semut. Tidak perlu menganggap uang sebagai Tuhan, karena dalam hidup semut berwujud manusia itu semua terjadi sebagai bagian dari teori kebetulan. Jika kita beruntung, perputaran uang di dompet tidak terlalu mengusik bentuk perut atau penampilan. Kebetulan kita berjodoh dengan rizki.

Kita telah didesain sebagai semut - semut profesional yang tergerak oleh pemenuhan keuangan. Perut - perut buatan pada diri kita harus terus dipenuhi. Perut yang mampu mulur sehingga tetap seimbang dengan kerja keras yang kita usahakan. Jadilah kita semut - semut dengan perut besar, berjalan kelelahan siang dan malam. Seandai tabir kitab manusia itu dibuka, sungguh, kita berjalan di muka bumi dengan perut - perut besar luar biasa. Atau sebaliknya perut - perut kosong melekat pada tulang, bagi yang kebetulan tidak berjodoh dengan rizki.

Begitulah kehidupan kita saat ini, kita sungguh tidak bisa berdiri kecuali seperti bangunnya orang yang berpenyakit ayan. Secara sadar kita mengikuti kebanyakan, yang terlihat indah dalam iklan - iklan layanan masyarakat. Hanya karena begitulah menurut jumhur manusia. Mayoritas yang kita lihat setiap hari, membuat kita menjadi semut - semut di terminal kebudayaan buatan. Atau mungkin kita sebenarnya hanyalah gula yang sedang diperebutkan oleh semut. Adakah minoritas manusia? Ah, seandainya kita mampu menginderai buku yang sedang kita tulis. Mereka yang minoritas manusia itu, perkumpulan kecil yang jauh lebih sibuk menulis buku mereka dengan catatan - catatan abadi. Dan mereka meletakkan sedikit uang yang dimiliki di tangan mereka, bukan di dalam hati. Tidak seperti kita yang tidak memiliki waktu untuk bangun dari mimpi - mimpi, dari peran sandiwara menjadi semut - semut terminal. Panggung nyaman yang jauh dari kesan kuno, aneh dan ketinggalan jaman.

21 Rajab 1436 H

0 Komentar:

Posting Komentar