Smiley

0
Mataku terbuka, oleh suara hewan yang banyak ramai. Tanganku terasa dingin menyentuh rerumputan pagi yang basah. Kakiku sulit sekali digerakkan. Kesemutan seperti adatnya, karena tidur di lantai dingin. Langit terlihat cerah dan biru. Dihiasi awan yang seperti ikan - ikan bergerombol dalam kelompok besar. Angin berhembus semilir. Perlahan kakiku mulai dapat digerakkan, sehingga aku dapat menguasai jurus bangun dari tidur. Tapi, .... kenapa ada langit di kamarku?!!!!!

Astaga! Rupanya aku sedang tidur di savana luas. Di antara kerumunan rakyat negara ini yang sedang menikmati sarapan pagi. Bukankah tadi semua ini kulihat di youtube saja?! Aku berusaha mengucek mata, namun langit tidak juga terbelah. Dan seekor impala mulai mendekat karena bahaya tidak dia rasakan. Aku spontan bangkit karena melihat tanduknya yang menyuruk ke arahku. Sementara impala muda itu cuek saja seolah tidak melihatku. Apakah ini semacam gurauan ilmiah?!

Ah, perutku bersuara karena pengaruh paduan suara yang ditimbulkan oleh kawanan binatang savana yang memagut rumput. Apakah engkau ingin diisi rumput juga, wahai perut?! Aku mulai menoleh ke seluruh penjuru. Mencari jika ada tumbuhan penghasil buah yang ramah. Tampaknya hanya padang kekuasaan rumput saja. Membuatku lesu. Patah, arang.

Aku berjalan melawan arus kawanan semut yang membangunkan dari lamunan bubur kacang ijo seperti pagi - pagi yang biasa. Tanpa berpikir lagi menjauh, berharap ada sesuatu titik hitam yang berubah menjadi tinggi di jurusan horison. Ada, dan aku semakin mempercepat langkah untuk zooming. Berharap ada peninggalan orang, kalaupun tidak ada buah. Seandainya sebelum aku ada turis yang mampir kesini. Atau mungkin mereka yang meninggalkan diriku terasing di padang ini.

Ah, hanya pohon kayu putih saja, baunya. Apakah daun - daun itu bisa dimakan?! Seberkas cahaya orange tertangkap retinaku. Itu pasti tas punggung yang biasa dipakai orang bertualang. Aku melonjak kegirangan sambil berdoa ada alat komunikasi di dalam tas itu. Yah, mulai bertambah juga harapanku.

Tas punggung kubongkar dengan kasar. Kutumpahkan saja isinya berserakan di atas rumput. Ada sepotong roti berjamur. Selimut dan korek api. Ada juga, jasjus?!!! Wah, pertanda apa ini? Adakah akan dikirimkan sebuah dispenser atau galon berisi air nanti. Lewat awan yang lewat membawa kabar. Duh, heran dengan perut yang sudah berdendang seriosa. Berapa lama tidak diisi makanan, aku tidak ingat.

Aku sudah sedemikian lemas, karena hanya sedikit pula tadi mendapat embun untuk minum. Setelah lelah memanjat pokok kayu putih yang sedikit besar dan tinggi. Berharap ada yang curiga dengan sinyal warna orange di tengah luas rerumputan hijau. Dan kemudian datang menolong. Padahal waktu belumlah sore. Heran, sudah biasakan tidak makan sesiangan. Tetapi kenapa ini badan seolah sudah habis cadangan lemaknya. Sendi juga terasa lunglai.

---

Semak

Aku bersandar pada pokok kayu, ketika kemudian sudah tidak sadar berpindah dalam petualangan mimpi yang baru. Seolah ada jamuan makan, prasmanan. Rakus aku mencoba semua makananan yang disediakan. Apalagi ada tumpukan bebek goreng utuh yang terlihat begitu menggoda. Terlihat crispy, dan gemuk. Dan selanjutnya aku sudah mulai menggigit dagingnya. Merasakan sambal bumbu hijau yang tiada duanya. Dan ini gratis, tidak perlu mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk sepotong daging sejamak biasa.

Tetapi anehnya aku tak bisa merasa kenyang. Meskipun sudah selusin mangkok sup buah kutandaskan. Dan mengambil lagi lele - lele goreng yang tidak ada habisnya. Ketika sedang asyik menikmati sepotong roti cokelat, tetiba ada yang mengenai punggungku. Keras sekali, membuatku terhuyung dan gelap mata. Aku mengerjapkan mata, namun tetap gelap. Alamak! rupanya hari sudah gelap di padang rumput. Dan ribut - ribut di belakang tadi adalah seekor impala yang mengamuk melabrak kayu putih tempatku bersandar. 

Aku segera bangkit dan berlarian, namun justru menarik perhatian binatang yang kesurupan itu. Aku dikejar, dan reflek aku mengambil arah berputar. Mencoba secepatnya meraih pokok kayu besar tadi. Aku memanjat dengan kecepatan kilat. Meski ternatuk - antuk oleh serangan impala di bawah sana. Aih, sial benar. Ditunggunya aku oleh impala gila itu sambil baringan di bawah pokok kayu. Suara yang keluar dari mulutnya masih jelas terdengar marah. Semarah perutku yang bergolak berontak.

Ya Allah, aku berwasilah dengan sedikit kebaikan yang ada padaku. Turunkan hujan untuk membasahi tenggorokanku. Lirih aku bermunajat. Demi melihat impala yang tidak tidur menungguiku. Kebaikanmu Ya Allah! Embun pun sudah mencukupi jika kebaikanku hanya sebutir. Aku menangis, semalaman. Tidak bisa tidur karena perut yang terus menyerang. Namun lelah, dan lemas kurang air. 

Daun - daun mulai terasa basah dalam sentuhanku. Perlahan aku mengais agar tidak jatuh embun itu di tanah. Rupanya malam sudah mulai terkuak. Sinar berkas telah menyapa bagian lain savana. Sembari mengharap embun bekerja, aku berisyarat untuk munajat. Mengulang kembali agar tidak sampai aku menyerah. Rupanya sudah semakin basah daun - daun di sekitarku. Berkah rezeki yang sedikit ini cukup membuatku bangkit kembali. 

Sinar mentari tampak jingga, samar - samar kulirik impala yang menjadi satpam di bawah. Rupanya telah lunglai tanduknya. Pertanda sedang nyenyak tidur, setelah begadang semalaman. Ah, mengapa ada ranting patah di bawah kaki aku berpijak. Sungguh aku tidak mengerti, dan sadar keberadaannya. Perut sudah mulai mengangkat tongkat dirigen. Sambutan keroncong yang halus namun perih. Ya Allah, maafkan jika binatang yang dilindungi ini menjadi bagian dari dagingku. 

Perlahan aku merambat pada pokok kayu. Pelan sekali, seperti seekor siput yang sedang sakit mata. Kayu besar yang agak tajam di ujungnya itu mantap kugenggam di tangan kanan. Tangan terkuatku. Setelah tercapai jarak yang memungkinkan, aku melompat ke atas tubuh impala. Sambil mengarahkan kayu pada leher. Sebentar kemudian kami sudah berjuang saling melumpuhkan.

Tidak terpikir jika kemudian impala ini rejeki. Aku hanya berharap, namun malah dikejar rejeki. Semalaman, tidak terlintas untuk menjadikannya daging bakar. Matahari sudah mulai gagah, ketika bau daging setengah matang menggodaku untuk segera menyantap. Kali ini, aku memborong semua jenis makan. Sarapan hari kemaren, makan siang, makan malam, beserta seluruh waktu camilan. 

Aku jadi berpikir, mungkin seperti ini juga hidupku yang lalu. Aku yang begitu lama menghindar dunia menulis. Menjauh dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan lain. Padahal tulis - menulis telah mengejarku berkali - kali. Hampir kena, kemudian lepas lagi. Begitu, selama tujuh tahun ini. Bersaksilah aku, bahwa seorang hamba akan dikejar rejekinya. Bahkan sampai ke dasar gua sekalipun. Mengingat impala yang kemaren memburuku, untuk mati menjadi sembelihan darurat. Menjadi obat penenang bagi perut yang over acid

Ah! Nikmat juga meski alot. Semakin alot, dan lengket. Melekat di sela gigi, sehingga terasa sulit mengunyah. Oh, feeling yang tidak asing ini. Seperti hari dulu, saat begitu sibuk dan selalu lelah ketika sampai di rumah. Dan biasa terlelap di atas sofa, tertelungkup. Katanya, aku mengerat. Jika sudah hilang akal dalam kondisi capek, menurut kawan sepeniduran, aku sering menciptakan suara keratan. Ah, Alhamdulillah. Aku terbangun, mimpi yang penuh makna. Bunga tidur yang beranjak gugur menjadi buah. 

25 Rajab 1436 H

0 Komentar:

Posting Komentar